Sudut Pandang Katolik tentang Realis Praesentia (Kehadiran Nyata)
Pada Mat. 26:26-28, Yesus menyatakan Ekaristi sebagai tubuh dan darahNya. Berdasarkan Kitab Suci dan Tradisi, umat Katolik yakin bahwa yang diakatakan Yesus tersebut adalah benar tubuh dan darahNya.
Pada perjamuan terakhir, Yesus mengambil roti dan anggur di tangannya dan berkata, “Inilah tubuh-Ku” dan “Inilah darah-Ku.” Dengan demikian, Ia menyatakan bahwa elemen-elemen ini telah diubah dari roti dan anggur biasa menjadi tubuh dan darah-Nya sendiri.
Mereka yang Tidak Setuju dengan Sudut Pandang Katolik Itu
Pendapat mereka yang tidak setuju dengan sudut pandang katolik tersebut dapat digolongkan menjadi 2 kelompok besar. Berikut ini alasan mengapa tidak setuju dan bagaimana tanggapan katolik.
1. Yesus menyebut diriNya sebagai “pintu” dan “anggur yang sejati.”
Alasan mereka sebagai berikut:
Yesus berbicara secara kiasan saja ketika Ia mengatakan bahwa roti dan anggur adalah tubuh dan darah-Nya. Lagipula, Ia menyebut diri-Nya sebagai “pintu” (di Yohanes 10:9) dan sebagai “anggur yang sejati” (Yohanes 15:1).
Tanggapan katolik:
Yesus memang sering berbicara dengan metafora. Namun, Yesus berbicara sedikit berbeda selama Perjamuan Terakhir. Mengatakan “Aku adalah pintu” berbeda dengan menunjuk pada pintu fisik dan berkata, “Pintu ini adalah aku.” (Sebagai catatan, pengikut Yesus tampaknya memahami perbedaan ini: ketika Yesus menyebut diri-Nya “pintu” atau “anggur yang sejati,” tidak ada yang mulai mencari pintu atau anggur fisik.)
Selama Perjamuan Terakhir, Yesus justru membuat pernyataan langsung tentang sifat objek fisik tertentu: “Ini [roti] adalah tubuh-Ku” dan “Ini [anggur] adalah darah-Ku.”
2. Yang sebenarnya Yesus maksudkan adalah dalam arti “spiritual.”
Alasan mereka sebagai berikut:
Yesus pernah berkata bahwa makan daging tidak ada gunanya dan bahwa kata-kata yang Ia ucapkan adalah roh dan kehidupan (Yohanes 6:63). Itu berarti Ia pasti berbicara secara spiritual saja ketika Ia mengatakan bahwa roti dan anggur adalah daging dan darah-Nya.
Tanggapan katolik:
Yesus sering menggunakan “daging” dan “roh” untuk membedakan pemahaman manusia dari kebenaran yang diwahyukan secara ilahi. Yesus merujuk pada pembedaan ini ketika Ia berkata, “Kamu menghakimi menurut daging, Aku tidak menghakimi siapa pun. Namun, jika Aku menghakimi, penghakiman-Ku benar, karena bukan Aku sendirian yang menghakimi, tetapi Aku dan Dia yang mengutus Aku” (Yohanes 8:15-16).
Dalam Yohanes 6, Yesus menjanjikan Ekaristi. Para pendengarnya mengerti bahwa Ia berbicara secara harfiah dan merasa ngeri. Alih-alih menjelaskan bahwa Ia hanya berbicara secara kiasan, Yesus berkata, pada dasarnya, “Kalian tidak dapat memahami ini sekarang karena kalian hanya mengandalkan akal budi manusia [‘daging’]. Itu tidak akan membantu kalian di sini. Kalian harus mengandalkan apa yang Aku katakan kepada kalian, yaitu kebenaran yang diwahyukan oleh Allah [‘roh’].”
