Dari Buta Menjadi Melihat – Minggu Laetare 2026

Minggu Laetare adalah Minggu keempat dan “titik tengah” dalam masa Prapaskah, dalam kalender liturgi Kristen Barat. Secara tradisional, Minggu ini merupakan hari perayaan di tengah masa Prapaskah yang penuh kesederhanaan. Nama Minggu ini diambil dari beberapa kata pertama (incipit) dari ayat pembuka (Introit) dalam bahasa Latin yang digunakan dalam Misa hari itu. “Lætare Jerusalem” (“Bergembiralah, hai Yerusalem”) adalah kutipan Latin dari Yesaya 66:10.

Bacaan Injil pada Minggu Laetare 2026 diambil dari Yohanes 9:1-41. Cukup panjang.

Yohanes 9:1-41
Waktu Yesus sedang lewat, Ia melihat seorang yang buta sejak lahirnya. Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya: “Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?” Jawab Yesus: “Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia. Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorang pun yang dapat bekerja. Selama Aku di dalam dunia, Akulah terang dunia.”

Setelah Ia mengatakan semuanya itu, Ia meludah ke tanah, dan mengaduk ludah-Nya itu dengan tanah, lalu mengoleskannya pada mata orang buta tadi dan berkata kepadanya: “Pergilah, basuhlah dirimu dalam kolam Siloam.” Siloam artinya: “Yang diutus.” Maka pergilah orang itu, ia membasuh dirinya lalu kembali dengan matanya sudah melek.

Tetapi tetangga-tetangganya dan mereka, yang dahulu mengenalnya sebagai pengemis, berkata: “Bukankah dia ini, yang selalu mengemis?” Ada yang berkata: “Benar, dialah ini.” Ada pula yang berkata: “Bukan, tetapi ia serupa dengan dia.” Orang itu sendiri berkata: “Benar, akulah itu.” Kata mereka kepadanya: “Bagaimana matamu menjadi melek?”Jawabnya: “Orang yang disebut Yesus itu mengaduk tanah, mengoleskannya pada mataku dan berkata kepadaku: Pergilah ke Siloam dan basuhlah dirimu. Lalu aku pergi dan setelah aku membasuh diriku, aku dapat melihat.”

Lalu mereka berkata kepadanya: “Di manakah Dia?” Jawabnya: “Aku tidak tahu.” Lalu mereka membawa orang yang tadinya buta itu kepada orang-orang Farisi. Adapun hari waktu Yesus mengaduk tanah dan memelekkan mata orang itu, adalah hari Sabat. Karena itu orang-orang Farisi pun bertanya kepadanya, bagaimana matanya menjadi melek. Jawabnya: “Ia mengoleskan adukan tanah pada mataku, lalu aku membasuh diriku, dan sekarang aku dapat melihat.”

Maka kata sebagian orang-orang Farisi itu: “Orang ini tidak datang dari Allah, sebab Ia tidak memelihara hari Sabat.” Sebagian pula berkata: “Bagaimanakah seorang berdosa dapat membuat mujizat yang demikian?” Maka timbullah pertentangan di antara mereka. Lalu kata mereka pula kepada orang buta itu: “Dan engkau, apakah katamu tentang Dia, karena Ia telah memelekkan matamu?” Jawabnya: “Ia adalah seorang nabi.”

Tetapi orang-orang Yahudi itu tidak percaya, bahwa tadinya ia buta dan baru dapat melihat lagi, sampai mereka memanggil orang tuanya dan bertanya kepada mereka: “Inikah anakmu, yang kamu katakan bahwa ia lahir buta? Kalau begitu bagaimanakah ia sekarang dapat melihat?” Jawab orang tua itu: “Yang kami tahu ialah, bahwa dia ini anak kami dan bahwa ia lahir buta, tetapi bagaimana ia sekarang dapat melihat, kami tidak tahu, dan siapa yang memelekkan matanya, kami tidak tahu juga. Tanyakanlah kepadanya sendiri, ia sudah dewasa, ia dapat berkata-kata untuk dirinya sendiri.”

Orang tuanya berkata demikian, karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi, sebab orang-orang Yahudi itu telah sepakat bahwa setiap orang yang mengaku Dia sebagai Mesias, akan dikucilkan. Itulah sebabnya maka orang tuanya berkata: “Ia telah dewasa, tanyakanlah kepadanya sendiri.” Lalu mereka memanggil sekali lagi orang yang tadinya buta itu dan berkata kepadanya: “Katakanlah kebenaran di hadapan Allah; kami tahu bahwa orang itu orang berdosa.” Jawabnya: “Apakah orang itu orang berdosa, aku tidak tahu; tetapi satu hal aku tahu, yaitu bahwa aku tadinya buta, dan sekarang dapat melihat.”

Kata mereka kepadanya: “Apakah yang diperbuat-Nya padamu? Bagaimana Ia memelekkan matamu?” Jawabnya: “Telah kukatakan kepadamu, dan kamu tidak mendengarkannya; mengapa kamu hendak mendengarkannya lagi? Barangkali kamu mau menjadi murid-Nya juga?” Sambil mengejek mereka berkata kepadanya: “Engkau murid orang itu tetapi kami murid-murid Musa. Kami tahu, bahwa Allah telah berfirman kepada Musa, tetapi tentang Dia itu kami tidak tahu dari mana Ia datang.” Jawab orang itu kepada mereka: “Aneh juga tahu bahwa kamu tidak tahu dari mana Ia datang, sedangkan Ia telah memelekkan mataku. Kita tahu, bahwa Allah tidak mendengarkan orang-orang berdosa, melainkan orang-orang yang saleh dan yang melakukan kehendak-Nya. Dari dahulu sampai sekarang tidak pernah terdengar, bahwa ada orang yang memelekkan mata orang yang lahir buta. Jikalau orang itu tidak datang dari Allah, Ia tidak dapat berbuat apa-apa.”

Jawab mereka: “Engkau ini lahir sama sekali dalam dosa dan engkau hendak mengajar kami?” Lalu mereka mengusir dia ke luar. Yesus mendengar bahwa ia telah diusir ke luar oleh mereka. Kemudian Ia bertemu dengan dia dan berkata: “Percayakah engkau kepada Anak Manusia?” Jawabnya: “Siapakah Dia, Tuhan? Supaya aku percaya kepada-Nya.” Kata Yesus kepadanya: “Engkau bukan saja melihat Dia; tetapi Dia yang sedang berkata-kata dengan engkau, Dialah itu!” Katanya: “Aku percaya, Tuhan!” Lalu ia sujud menyembah-Nya.

Kata Yesus: “Aku datang ke dalam dunia untuk menghakimi, supaya barangsiapa yang tidak melihat, dapat melihat, dan supaya barangsiapa yang dapat melihat, menjadi buta.” Kata-kata itu didengar oleh beberapa orang Farisi yang berada di situ dan mereka berkata kepada-Nya: “Apakah itu berarti bahwa kami juga buta?” Jawab Yesus kepada mereka: “Sekiranya kamu buta, kamu tidak berdosa, tetapi karena kamu berkata: Kami melihat, maka tetaplah dosamu.”

Kisah ini dimulai dengan seorang yang buta sejak lahir. Orang-orang di sekitarnya langsung bertanya: “Siapa yang berdosa?” Mereka melihat penderitaan sebagai hukuman. Tapi Yesus mematahkan cara pikir itu.

Yesus berkata bahwa kondisi itu bukan soal dosa, tapi supaya pekerjaan Allah dinyatakan.

Ini penting:
Kadang kita juga cepat menghakimi — baik diri sendiri atau orang lain — saat melihat kesulitan. Padahal, tidak semua penderitaan adalah hukuman. Bisa jadi itu adalah tempat Tuhan bekerja secara nyata.

Proses yang Aneh Tapi Bermakna
Yesus meludah, membuat lumpur, mengoleskan ke mata orang itu, lalu menyuruhnya pergi ke kolam Siloam. Kelihatannya aneh. Kenapa tidak langsung sembuh?

Karena:
Ada proses ketaatan
Ada langkah iman
Orang buta itu taat — dan akhirnya melihat.

Kadang Tuhan juga bekerja lewat proses yang tidak kita pahami. Bukan instan. Tapi justru di situ iman kita dibentuk.

Ironi: Yang Melihat Tapi Sebenarnya Buta
Setelah sembuh, masalah justru muncul. Orang Farisi menolak mukjizat itu karena dilakukan pada hari Sabat.

Ironinya:
Orang yang tadinya buta secara fisik → sekarang melihat
Orang Farisi yang melihat secara fisik → justru buta secara rohani

Mereka menolak kebenaran karena:
merasa paling benar
keras hati
tidak mau berubah

Ini peringatan keras:
Bisa saja seseorang kelihatan “rohani”, tapi sebenarnya tidak mengenal kebenaran.

Pengakuan Iman yang Bertumbuh
Orang yang disembuhkan ini mengalami pertumbuhan iman:
Awalnya: “Seorang yang disebut Yesus”
Lalu: “Dia nabi”
Akhirnya: Ia menyembah Yesus sebagai Tuhan

Iman itu proses.
Dari tidak tahu → mulai percaya → akhirnya menyembah.

Makna Utama
Yesus menutup dengan pernyataan tajam:
“Aku datang supaya mereka yang tidak melihat dapat melihat, dan mereka yang melihat menjadi buta.”

Artinya:
Yang rendah hati dan mau percaya → akan menerima terang
Yang sombong dan merasa tahu segalanya → justru kehilangan terang

Refleksi Buat Kita
Coba jujur ke diri seniri:
Apakah aku pernah “menyalahkan” Tuhan saat hidup susah?
Apakah aku mau taat walau ga ngerti rencana-Nya?
Apakah aku benar-benar “melihat” kebenaran, atau cuma merasa tahu?

Kesimpulan Singkat
Kisah ini bukan cuma soal mujizat, tapi soal penglihatan rohani:
Tuhan bisa ubah hidup siapa pun
Tapi yang penting bukan mata fisik — melainkan hati yang terbuka

Kalau dirangkum satu kalimat:
Lebih berbahaya bukan jadi buta — tapi merasa melihat padahal sebenarnya tidak.